Rabu, 17 April 2013

"KITA"


Telah lelah tangan ini ingin menggapai mu. Telah lelah suara ini memanggil namamu. Telah lelah pikiran ini memikirkan mu. Telah lelah hati ini merasakan semua ini. Lelah rasanya mencari perhatian mu kembali. Menginginkan masa lalu bisa kembali hadir menemaniku saat ini. Tapi itu hanyalah sebuah mimpi didinginnya malam. Takdir berkata tidak sesuai dengan harapanku. Perpisahan harus memisahkan sebuah cinta yang masih bersemi di dalam hati. Relung jiwa merasakan kepenakan tentang cinta. Apakah harus percaya dengan cinta yang tulus? Disaat rasa ini telah lelah merasakan sebuah cinta semu, aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Jika benar ini mimpi, maka cepat bangunkanlah aku dari mimpi buruk ini.

Kebahagiaan, kebersamaan, dan keceriaan “kita” selama ini sudah tidak tampak lagi di depan mataku. Aku hanya bisa melihat itu semua di belakangku. Aku ingin bisa melihat itu lagi di depan mataku, tapi rasanya aku sudah lelah untuk memperjuangkan “kita” yang dulu. “Kita” yang sekarang bukan lagi “kita” yang dulu. “Kita” yang sekarang sangatlah berbeda. Ya, berbeda. “Kita” yang sekarang seperti tidak pernah mengenal satu sama lain. “Kita” yang sekarang sudah saling menjauh satu sama lain. Dan “kita” yang sekarang berusaha untuk tidak peduli lagi sama lain. Jika kau tau, aku sangat merindukan “kita” yang dulu, “kita” yang dulu itu lebih indah daripada “kita” yang sekarang.

Akankah bisa kembali “kita” yang seperti dulu? Kebahagiaan itu begitu aku rindukan. Tapi kecuekanmu membuat aku sadar, bahwa ‘mungkin’ begitu sulit untuk kembali menjadi “kita” yang dulu. Jika kau bertanya bagaimana rasa yang aku rasakan sekarang, aku akan menjawab “Rasa yang aku rasakan sekarang sama seperti rasa yang aku rasakan saat kita pertama bertemu”. Aku tau jika aku memang bukanlah wanita tegar yang dapat menerima semua kenyataan ini. Mungkin rasa yang kau rasakan juga sudah berbeda atau bahkan menghilang. Aku terima itu. Mungkin. Ya, mungkin aku bisa terima itu. Tapi apakah aku salah jika aku masih mengharapkan “kita” yang dulu?

“Kita” yang sekarang masih sulit untuk aku terima. Lelah hati ini untuk merasakan “kita” yang sekarang. Tak ada lagi perhatian, tak ada lagi kata sayang, tak ada lagi canda tawa, dan tak ada lagi pertengkaran karena sebuah kecemburuan. Ya, “kita” yang sekarang hanya “kita” yang menjalani hidup masing-masing, tidak memperdulikan satu sama lain, bahkan seperti tidak saling mengenal satu sama lain. Itu lah “kita” yang sekarang. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi itu lah rasa yang aku rasakan saat ini juga. Tanpa dirimu di sampingku. Tanpa perhatianmu lagi kepadaku. Dan tanpa panggilan sayangmu lagi kepadaku. Tapi aku yakin, mungkin di masa depan, “kita” yang sekarang akan berubah menjadi “kita” yang dulu lagi. Semoga. Ya, semoga saja :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar