Telah lelah tangan ini ingin menggapai mu. Telah lelah suara
ini memanggil namamu. Telah lelah pikiran ini memikirkan mu. Telah lelah hati
ini merasakan semua ini. Lelah rasanya mencari perhatian mu kembali.
Menginginkan masa lalu bisa kembali hadir menemaniku saat ini. Tapi itu
hanyalah sebuah mimpi didinginnya malam. Takdir berkata tidak sesuai dengan
harapanku. Perpisahan harus memisahkan sebuah cinta yang masih bersemi di dalam
hati. Relung jiwa merasakan kepenakan tentang cinta. Apakah harus percaya
dengan cinta yang tulus? Disaat rasa ini telah lelah merasakan sebuah cinta
semu, aku berharap semua ini hanyalah mimpi. Jika benar ini mimpi, maka cepat
bangunkanlah aku dari mimpi buruk ini.
Kebahagiaan, kebersamaan, dan keceriaan “kita” selama ini
sudah tidak tampak lagi di depan mataku. Aku hanya bisa melihat itu semua di
belakangku. Aku ingin bisa melihat itu lagi di depan mataku, tapi rasanya aku
sudah lelah untuk memperjuangkan “kita” yang dulu. “Kita” yang sekarang bukan
lagi “kita” yang dulu. “Kita” yang sekarang sangatlah berbeda. Ya, berbeda. “Kita”
yang sekarang seperti tidak pernah mengenal satu sama lain. “Kita” yang
sekarang sudah saling menjauh satu sama lain. Dan “kita” yang sekarang berusaha
untuk tidak peduli lagi sama lain. Jika kau tau, aku sangat merindukan “kita”
yang dulu, “kita” yang dulu itu lebih indah daripada “kita” yang sekarang.
Akankah bisa kembali “kita” yang seperti dulu? Kebahagiaan itu
begitu aku rindukan. Tapi kecuekanmu membuat aku sadar, bahwa ‘mungkin’ begitu
sulit untuk kembali menjadi “kita” yang dulu. Jika kau bertanya bagaimana rasa
yang aku rasakan sekarang, aku akan menjawab “Rasa yang aku rasakan sekarang
sama seperti rasa yang aku rasakan saat kita pertama bertemu”. Aku tau jika aku
memang bukanlah wanita tegar yang dapat menerima semua kenyataan ini. Mungkin rasa
yang kau rasakan juga sudah berbeda atau bahkan menghilang. Aku terima itu.
Mungkin. Ya, mungkin aku bisa terima itu. Tapi apakah aku salah jika aku masih
mengharapkan “kita” yang dulu?
“Kita” yang sekarang masih sulit untuk aku terima. Lelah hati
ini untuk merasakan “kita” yang sekarang. Tak ada lagi perhatian, tak ada lagi
kata sayang, tak ada lagi canda tawa, dan tak ada lagi pertengkaran karena
sebuah kecemburuan. Ya, “kita” yang sekarang hanya “kita” yang menjalani hidup
masing-masing, tidak memperdulikan satu sama lain, bahkan seperti tidak saling
mengenal satu sama lain. Itu lah “kita” yang sekarang. Mungkin aku terlalu
berlebihan, tapi itu lah rasa yang aku rasakan saat ini juga. Tanpa dirimu di
sampingku. Tanpa perhatianmu lagi kepadaku. Dan tanpa panggilan sayangmu lagi
kepadaku. Tapi aku yakin, mungkin di masa depan, “kita” yang sekarang akan
berubah menjadi “kita” yang dulu lagi. Semoga. Ya, semoga saja :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar