Aku berjalan diantara kesepian
yang menyelimutiku. Dikelilingi oleh ilalang disekitarku. Duduk di bawah sinar
mentari yang begitu cerah. Ditemani oleh nyanyian dari para burung yang membuat
hatiku terasa lebih damai. Seorang diri di tengah-tengah sebuat penantian. Tiga
tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian. Dan akhirnya, hari
ini juga penantian ku usai sudah. Menanti seseorang yang aku sayangi, hari ini
pun kami akan bertemu. Setelah tiga tahun lamanya kami memutuskan untuk tidak
saling bertemu dan berjanji menjaga hati kami masing-masing untuk tiga tahun
lamanya, akhirnya hari ini adalah akhir dari penantian ku.
Pagi
ini akan menjadi saksi pertemuan ku dengan pria yang aku cintai selama ini.
Menjaga hati untuk tiga tahun lamanya bukan lah waktu yang sebentar dan tidak
terasa ringan. Semuanya aku lakukan demi seorang pria aku cintai. Aku masih
terduduk manis di bawah sebuah pohon yang rindang. Hanya seorang diri termenung
menanti seseorang yang aku rindukan selama tiga tahun ini. Satu jam aku
menunggu, dia tidak datang. Dua jam aku masih menunggu, aku masih belum melihat
wajahnya, tiga jam, empat jam sampai delapan jam aku menunggu, dia tetap tidak
muncul dihadapanku. Sekarang sudah pukul 16.00 WIB, sudah dari pukul 08.00 WIB
aku menunggunya di sini, tapi dia tak juga muncul dihadapanku.
Tak
terasa pipi ku sudah basah dengan air mataku. Betapa kecewanya aku hari ini.
Seharusnya hari ini menjadi hari yang istimewa untuk aku dan Ruben. Tapi dia
malah membuatku menunggu selama ini dan membuatku sangat kecewa padanya. Hari
sudah mulai gelap, saat aku hendak beranjak dari tempat yang aku duduki,
tiba-tiba aku terdengar suara langkah kaki seseorang. Aku mengira jika itu
adalah Ruben. Senyum langsung mengembang diwajahku. Dengan bahagianya aku
langsung membalikkan badanku untuk melihat kekasih yang sangat aku rindukan
itu.
“Rubbeeenn..”
Panggilku dengan senyum mengembang saat membalikkan seluruh badanku. Tapi,
senyuman ku tiba-tiba pudar karena yang aku temukan bukanlah sesosok pria yang
aku rindukan, melainkan teman dari pria yang aku rindukan.
“Albert?
Mana Ruben?”
Albert
terdiam. Aku terdiam. Suasanya menjadi hening sejenak.
“Samantha....”
Panggil Albert pelan. Samantha masih terdiam. “Hmmm.. aku ke sini...” Albert
seperti susah untuk berkata-kata.
“Mana
Ruben?” Samantha bertanya dengan sedikit tegas pada Albert. Namun, Albert hanya
menunduk dan terdiam. “Mana Ruben???!!!” Kini Aku mulai mengencangkan suaraku.
“Rubeeenn...”
Albert masih susah untuk berkata-kata.
“Aku
tanya, mana rubbeenn??” Samantha masih bersikeras untuk mengetahui dimana
kekasihnya itu sekarang.
“Tenang
Tha. Tenang!! Aku mau bilang Ruben dimana sekarang. Tapi kamu jangan
marah-marah terus kayak gini.” Aku pun terdiam dan menunduk mendengar ucapan
Ruben barusan. Air mata sepertinya sudah mengalir deras membasahi kedua pipiku.
“Ayo
ikut aku..” Ajak Albert sambil menggandeng tanganku untuk menuntun ku ke tempat
Ruben saat ini.
Albert
membawa ku ke sebuah tempat yang begitu sepi. Aku sempat berpikir apakah benar
Ruben ada di sini. Tempat ini benar-benar membuat ku ragu. Tempat setiap
manusia di istirahatkan untuk selamanya. Albert pun memberhentikan mobilnya. Ia
mengajak ku turun dari mobil. Albert melangkah di depan ku, aku pun mengikuti
langkahnya. Aku tidak berani berkata apapun. Aku terdiam, Albert pun terdiam.
Tiba-tiba
langkah Albert terhenti pada sebuah batu nisan. Dengan takut dan ragu aku
melihat ke arah batu nisan itu. Ternyata benar dugaan ku, batu nisan itu
bertuliskan nama “Ruben Ardiansyah” orang yang selama tiga tahun ini aku
tunggu, orang yang selama ini aku sayangi dan cintai sekarang namanya terukir
di dalam batu nisan.
Aku
terduduk di sebelah batu nisan yang bertuliskan nama Ruben. Aku menangis dengan
memeluk batu nisan itu. Serasa tak percaya dengan semua ini, aku menangis
terus-menerus. Albert lalu memeluk ku dan menenangkan ku.
“Dua
hari yang lalu dia meninggal karena kecelakaan. Saat dia pulang dari London
untuk bertemu dengan mu, dia berencana membelikan mu sebuah hadiah. Tapi
ternyata di tengah perjalanan ada seorang anak kecil yang menaiki motor dengan
ceroboh. Untuk menghindari menabrak anak itu, Ruben pun membanting setir,
dan...” Cerita Albert terhenti karena air matanya sudah akan menetes, “Dan
akhirnya dia menabrak pembatas jalan dan meninggal di tempat.” Lanjut Albert
yang langsung meneteskan air mata.
Mendengar
cerita Albert, tangisan ku langsung menjadi. Aku tidak menyangka dia meninggal
karena ingin membelikan ku hadiah. Aku tidak bisa menghentikan air mata ini.
Ruben kau melanggar janjimu. Bukankah kau bilang tiga tahun yang lalu, pada
hari ini kau janji akan datang untuk bertemu ku. Bukankah pada saat di London
kau selalu mengatakan untuk tidak sabar bertemu denganku. Tapi kenapa kau
melanggar janjimu? Kau berbohong padaku. Kau meninggalkan ku untuk selamanya.
Penantian ku selama ini kenapa sia-sia seperti ini? Walaupun kau sudah berada
jauh di sana, aku akan tetap mencintaimu dan menunggu untuk bertemu dengan mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar