Rabu, 17 April 2013

Penatianku


               Aku berjalan diantara kesepian yang menyelimutiku. Dikelilingi oleh ilalang disekitarku. Duduk di bawah sinar mentari yang begitu cerah. Ditemani oleh nyanyian dari para burung yang membuat hatiku terasa lebih damai. Seorang diri di tengah-tengah sebuat penantian. Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian. Dan akhirnya, hari ini juga penantian ku usai sudah. Menanti seseorang yang aku sayangi, hari ini pun kami akan bertemu. Setelah tiga tahun lamanya kami memutuskan untuk tidak saling bertemu dan berjanji menjaga hati kami masing-masing untuk tiga tahun lamanya, akhirnya hari ini adalah akhir dari penantian ku.
                Pagi ini akan menjadi saksi pertemuan ku dengan pria yang aku cintai selama ini. Menjaga hati untuk tiga tahun lamanya bukan lah waktu yang sebentar dan tidak terasa ringan. Semuanya aku lakukan demi seorang pria aku cintai. Aku masih terduduk manis di bawah sebuah pohon yang rindang. Hanya seorang diri termenung menanti seseorang yang aku rindukan selama tiga tahun ini. Satu jam aku menunggu, dia tidak datang. Dua jam aku masih menunggu, aku masih belum melihat wajahnya, tiga jam, empat jam sampai delapan jam aku menunggu, dia tetap tidak muncul dihadapanku. Sekarang sudah pukul 16.00 WIB, sudah dari pukul 08.00 WIB aku menunggunya di sini, tapi dia tak juga muncul dihadapanku.
                Tak terasa pipi ku sudah basah dengan air mataku. Betapa kecewanya aku hari ini. Seharusnya hari ini menjadi hari yang istimewa untuk aku dan Ruben. Tapi dia malah membuatku menunggu selama ini dan membuatku sangat kecewa padanya. Hari sudah mulai gelap, saat aku hendak beranjak dari tempat yang aku duduki, tiba-tiba aku terdengar suara langkah kaki seseorang. Aku mengira jika itu adalah Ruben. Senyum langsung mengembang diwajahku. Dengan bahagianya aku langsung membalikkan badanku untuk melihat kekasih yang sangat aku rindukan itu.
                “Rubbeeenn..” Panggilku dengan senyum mengembang saat membalikkan seluruh badanku. Tapi, senyuman ku tiba-tiba pudar karena yang aku temukan bukanlah sesosok pria yang aku rindukan, melainkan teman dari pria yang aku rindukan.
                  “Albert? Mana Ruben?”
                   Albert terdiam. Aku terdiam. Suasanya menjadi hening sejenak.
              “Samantha....” Panggil Albert pelan. Samantha masih terdiam. “Hmmm.. aku ke sini...” Albert seperti susah untuk berkata-kata.
              “Mana Ruben?” Samantha bertanya dengan sedikit tegas pada Albert. Namun, Albert hanya menunduk dan terdiam. “Mana Ruben???!!!” Kini Aku mulai mengencangkan suaraku.
                   “Rubeeenn...” Albert masih susah untuk berkata-kata.
                  “Aku tanya, mana rubbeenn??” Samantha masih bersikeras untuk mengetahui dimana kekasihnya itu sekarang.
                “Tenang Tha. Tenang!! Aku mau bilang Ruben dimana sekarang. Tapi kamu jangan marah-marah terus kayak gini.” Aku pun terdiam dan menunduk mendengar ucapan Ruben barusan. Air mata sepertinya sudah mengalir deras membasahi kedua pipiku.
                “Ayo ikut aku..” Ajak Albert sambil menggandeng tanganku untuk menuntun ku ke tempat Ruben saat ini.
                Albert membawa ku ke sebuah tempat yang begitu sepi. Aku sempat berpikir apakah benar Ruben ada di sini. Tempat ini benar-benar membuat ku ragu. Tempat setiap manusia di istirahatkan untuk selamanya. Albert pun memberhentikan mobilnya. Ia mengajak ku turun dari mobil. Albert melangkah di depan ku, aku pun mengikuti langkahnya. Aku tidak berani berkata apapun. Aku terdiam, Albert pun terdiam.
             Tiba-tiba langkah Albert terhenti pada sebuah batu nisan. Dengan takut dan ragu aku melihat ke arah batu nisan itu. Ternyata benar dugaan ku, batu nisan itu bertuliskan nama “Ruben Ardiansyah” orang yang selama tiga tahun ini aku tunggu, orang yang selama ini aku sayangi dan cintai sekarang namanya terukir di dalam batu nisan.
               Aku terduduk di sebelah batu nisan yang bertuliskan nama Ruben. Aku menangis dengan memeluk batu nisan itu. Serasa tak percaya dengan semua ini, aku menangis terus-menerus. Albert lalu memeluk ku dan menenangkan ku.
                “Dua hari yang lalu dia meninggal karena kecelakaan. Saat dia pulang dari London untuk bertemu dengan mu, dia berencana membelikan mu sebuah hadiah. Tapi ternyata di tengah perjalanan ada seorang anak kecil yang menaiki motor dengan ceroboh. Untuk menghindari menabrak anak itu, Ruben pun membanting setir, dan...” Cerita Albert terhenti karena air matanya sudah akan menetes, “Dan akhirnya dia menabrak pembatas jalan dan meninggal di tempat.” Lanjut Albert yang langsung meneteskan air mata.
              Mendengar cerita Albert, tangisan ku langsung menjadi. Aku tidak menyangka dia meninggal karena ingin membelikan ku hadiah. Aku tidak bisa menghentikan air mata ini. Ruben kau melanggar janjimu. Bukankah kau bilang tiga tahun yang lalu, pada hari ini kau janji akan datang untuk bertemu ku. Bukankah pada saat di London kau selalu mengatakan untuk tidak sabar bertemu denganku. Tapi kenapa kau melanggar janjimu? Kau berbohong padaku. Kau meninggalkan ku untuk selamanya. Penantian ku selama ini kenapa sia-sia seperti ini? Walaupun kau sudah berada jauh di sana, aku akan tetap mencintaimu dan menunggu untuk bertemu dengan mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar