Kamis, 18 April 2013

Senyumanmu


                “Jadi siapa orangnya?” tanya Mersya setengah berbisik pada Nada, karena kami sekarang sedang di dalam kelas mengikuti mata kuliah Bu Ratna yang menurutku dan mahasiswa lainnya begitu membosankan.
                “Orang yang mana?” Tanya Nada sedikit bingung sambil setengah bebisik seperti yang dilakukan Mersya barusan.
                “Ya ampun Nada. Cowo yang kemarin sering kamu liat di perpustakaan itu. Jangan bilang kalau sampai saat ini kamu belum tau dia siapa.” Mersya masih terus berbicara dengan rasa penasarannya. Ya, Nada memang senang sekali ke perpustakaan akhir-akhir ini. Bukan karena ingin meminjam buku di perpustakaan, namun karena seorang pria tampan yang selalu membaca buku dengan  gagah dan berwibawa di perpustakaan. Walaupun Nada sangat sering sekali bertemu dengan dia yang sedang membaca buku di perpustakaan kampus, tapi dia tidak terlihat seperti mahasiswa-mahasiswa kutu buku yang berdandan culun dengan kacamata tebal mereka. Dia tetap terlihat keren dan memesona. Terutama memesona bagi Nada.
                “Aku belum tau dia sih.” Kata Nada setelah ia puas mengingat tentang pria idamannya itu.
                “Hah? Terus?” Mersya semakin penasaran.
                “Ya terus nggak kenapa-kenapa. Emangnya mau gimana?” Nada masih santai aja menanggapi rasa penasaran sahabatnya itu.
                “Baiklah. Kuliah hari ini cukup sampai di sini. Jangan lupa tugas kalian untuk minggu depan. Terimakasih dan selamat siang.” Suara Bu Ratna memotong dan membuyarkan mereka berdua. Bu Ratna pun keluar kelas dengan diikuti mahasiswa yang lain, tidak terkecuali Nada dan Mersya.
                “Habis ini kamu mau kemana lagi? Mau ke perpustakaan?” tanya Mersya yang sepertinya masih penasaran pada sosok pria idaman Nada.
                “Hmm.. Kayaknya hari ini aku nggak ke perpus dulu Sya. Aku mau ke toko buku aja. Mau nyari buku buat tugasnya Bu Ratna.” Jawab Nada.
                “Yahh.. Padahal aku kan penasaran sama dia. Ya uda deh, aku ikut ke toko buku ya.” Kata Mersya. Dan mereka berdua pun langsung pergi menuju toko buku yang akan mereka tuju.

*****
               
                “Kamu mau beli buku apa?” tanya Mersya sesampainya mereka di dalam sebuah toko Buku.
                “Aku pengen cari buku tentang sastrawan deh kayaknya. Aku mau cari ke sebelah sana dulu ya. Kamu mau ikut Sya?”
                “Nggak deh. Aku mau cari novel aja. Mau tambah-tambah koleksi gitu.”
                “Oke deh. Aku ke sana dulu ya.” Pamit Nada seraya meninggalkan Mersya. Nada berjalan menuju sebuah rak buku yang berisikan buku para sastrawan. Melihat buku yang begitu banyak terpampang di rak itu, Nada pun kebingungan untuk memilih buku mana yang akan ia ambil. Setelah ia pusing mencari, ia pun menyerah. Nada berjalan menuju meja kasir dan hendak meminta saran kepada petugas di toko buku tersebut. Mungkin saja dia mendapatkan saran yang baik.
                “Selamat siang mbak, ada yang bisa saya bantu.” Sapa petugas toko buku itu dengan ramah.
                “Oh iya mas, jadi gini, saya itu lagi pengen cari buku tentang satrawan, tapi saya bingung milih bukunya. Kira-kira mas ada saran nggak?” tanya Nada penuh harapan.
                “Buku tentang Chairil Anwar sepertinya akan menarik. Beliau adalah salah satu seorang penyair terkenal yang ada di Indonesia. Syair-syair yang beliau ciptakan juga begitu indah dan mempunyai makna yang sangat mendalam. Mungkin itu bisa menjadi refrensi.”
                Mendengar penjelasan barusan Nada hanya terdiam. Bukan hanya terdiam, bahkan dia juga tidak mengedipkan matanya sama sekali. Ternyata yang menjawab pertanyaannya barusan bukan petugas dari toko buku tersebut, melainkan pria di perpustakaan yang Nada kagumi selama ini. Ya, pria itu sekarang berbicara padanya. Pria itu kini ada di sampingnya. Tapi Nada hanya terdiam dan tidak berkomentar apa-apa.
                “Kalo menurutku sih itu. Coba aja deh kamu baca buku itu. Pasti kamu akan suka. Selamat mencari.” Dia pun berlalu sambil melemparkan senyuman manis dari wajahnya. Menurut Nada, itu adalah senyuman terindah yang pernah ia lihat. Setelah kepergian pria itu, Nada hanya bisa terdiam dan masih tidak berkomentar apa-apa.
                “Ada yang bisa dibantu lagi mbak?” tanya petugas itu dan menyadarkan Nada dari bengongnya karena pria idamannya itu.
                “Eh hmm.. Uda mas uda. Makasih ya.” Jawab Nada gugup dan terbata-bata.
                “Oh baguslah, untung saja ada Mas Panji yang bisa membantu.” Kata petugas itu lagi.
                “Hah? Siapa mas? Panji? Kok mas bisa tau nama dia sih?” kali ini Nada yang bertanya kepada petugas tersebut.
                “Ya tau lah mbak. Dia kan pemilik toko buku ini. Mas panji memang sangat suka membaca, jadi ayahnya mas Panji memberikan kado spesial kepadanya, ya toko buku ini mbak. Memangnya mbak kenal sama mas Panji?”
                “Ah mmm nggak kok. Ya uda mas. Saya beli buku tentang Chairil Anwar aja, ada nggak?”
                “Sebentar ya mbak saya cari dulu.” Lalu petugas toko buku itu pun bergegas mencari buku milik Chairil Anwar.
                Oh jadi nama dia Panji. Ah aku tidak menyangka ternyata dia adalah pemilik toko buku ini. Kalau aku tau dari dulu, aku akan sering berkunjung ke tempat ini. Panji oh Panji, senyuman tadi adalah senyuman paling indah yang pernah ku lihat. Batin Nada dalam hati.
                “Nad, gimana? Uda dapet bukunya? Aku uda dapet nih.” Suara Mersya tiba-tiba membuyarkan semua lamunan Nada tentang Panji dan senyumannya.
                “Uda. Aku dapet buku tentang Chairil Anwar. Habis kita bayar, langsung pulang yuk. Aku uda nggak sabar mau baca buku ini.” Ajak Nada sambil membayar buku yang sudah dicarikan oleh petugas tersebut.

*****

                Keesokan harinya, Nada berniat untuk lebih memberanikan diri. Dia berencana untuk mengajak bicara Panji, pria idamannya selama ini. Nada pun melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Seperti dugaan Nada, Panji sudah duduk manis sambil membaca sebuah buku. Ternyata nyali Nada tidak sebesar yang ia bayangkan. Saat melihat wajah Panji, rasanya susah baginya untuk hanya sekedar berkata “Hai” saja.
                Nada pun mengeluarkan secarik kertas dan menulis sesuatu di atas kertas tersebut. Nada melihat lagi ke arah Panji yang ada di depannya. Dan  Panji masih asik dengan bukunya. Nada berjalan pelan melangkahkan kakinya, mendekati Panji yang sedang asik membaca. Sesampainya di dekat Panji, Nada bukannya berbicara atau menyapa Panji, tapi dia malah hanya memberikan secarik kertas yang tadi Nada pegang dan memberikannya kepada Panji, lalu ia berlari meninggalkan Panji.
                Panji hanya terdiam dan heran melihat tingkah laku Nada barusan. Ia hanya memandangi sebuah kertas yang ada di dalam genggamannya saat ini. Dengan rasa penasaran, Panji pun membuka kertas yang diberikan oleh Nada.
                Terimakasih ya buat saran kamu kemarin. Itu sangat membantuku untuk menentukan pilihan. Terimakasih juga untuk sebuah senyuman yang kamu berikan kemarin. Itu adalah senyuman terindah yang pernah aku lihat. Maaf jika aku lancang menulis ini semua. Tapi aku hanya ingin berterimakasih saja. Terimakasih Panji sudah menjadi penyemangatku selama ini. Walaupun aku hanya mampu melihatmu dari kejauhan, tapi aku sudah cukup bahagia. Apalagi saat melihat sebuah senyuman di wajahmu. Aku begitu bahagia. Terimakasih sekali lagi. Nada
                Panji hanya tersenyum membaca tulisan singkat dari Nada untuknya. Dia pun mulai mengambil sebuah bulpoin yang ada di dalam kantongnya, dan menulis di dalam kertas yang sama. Setelah selesai menulis, ia pun meninggalkan secarik kertas tersebut di meja itu juga. Dia tau pasti Nada akan mengambil kertas tersebut lagi. Lalu ia pun pergi dengan meninggalkan kertas tersebut di atas meja.
                Ternyata benar dugaan Panji, sedaritadi Nada masih berada diantara rak-rak buku di dalam perpustakaan. Dia masih belum pergi meninggalkan Panji. Tapi kali ini, Panji lah yang pergi dan meninggalkan secarik kertas di atas meja. Dengan cepat, Nada langsung mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang Panji tulis.
                Sebelum kamu menulis surat ini, aku sudah tau jika kamu sering sekali memperhatikanku. Aku tau jika kamu sering melemparkan senyum untukku. Walau aku tidak melihatnya, tapi aku bisa merasakannya. Jika kau tau, aku juga merasakan hal yang sama dengan mu. Kau juga menjadi salah satu bagian dari semangatku. Senyumanmu juga begitu indah bagiku. Tapi maaf, bukannya aku ingin menolakmu, tapi aku belum siap untuk menjalin sebuah hubungan dengan siapapun. Aku ingin fokus dengan kuliahku terlebih dahulu. Aku tau ini pasti menyakitkan bagimu. Tapi percayalah, aku berjanji setelah kelulusan kita, aku akan menemuimu dan menyatakan cinta ini dengan resmi kepadamu. Apa kau bersedia menantiku? Apa kau bersedia juga menjaga hati untukku selama itu? Tunggu aku dua tahun lagi, dan kita akan merasakan apa itu yang namanya cinta dengan indah. Terimakasih untuk senyumanmu kepadaku, janganlah berhenti tersenyum kepadaku, karena senyumanmu membuatku semangat untuk menjalani dua tahun ini. Terimakasih. Panji.
                Tak terasa ada sesuatu yang basah mengalir dikedua pipi lembut Nada. Membaca tulisan yang diberikan oleh Panji dia merasa terharu dan bahagia. Dia tidak bisa menahan air mata bahagia yang keluar dari matanya kali ini. Ternyata Panji juga sering memperhatikannya dan dia menyuruh Nada menunggu selama dua tahun. Jika itu memang mau Panji, Nada akan siap menjaga hatinya untuk Panji.
                Dari kejauhan terlihat sosok Panji yang sedang memandangi Nada. Ternyata Panji masih belum beranjak dari perpustakaan. Dia ingin melihat reaksi Nada saat membaca balasan surat darinya. Melihat ekspresi Nada yang bahagia, Panji pun tersenyum sangat manis dan lega. Ia pun berjanji akan benar-benar menjaga hatinya untuk Nada dan menepati janjinya dua tahun yang akan datang. Kini Panji dan Nada pun sama-sama tersenyum, karena ternyata senyuman mereka berdualah yang bisa menjadi semangat satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar